Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Buku ini memotret biografi seorang CT yang merupakan pengusaha dengan jejak rekam memulai dari bawah.

Windows 8

Whatever kind of PC you have, you'll discover fast and fluid ways to switch between apps, move things around, and go smoothly from one place to another.

Iphone 5

Apple has given the iPhone 5 a taller screen and a sumptuous redesign, though it's no longer the only phone to consider.

Habibie dan Ainun

Penulisan buku ini merupakan kisah perjalanan Habibie dengan Ainun semenjak masih muda dan sampai akhirnya Ainun wafat di Jerman.

Asus Transformer Prime

Transformes between Tablet and Notebook, we give you more with the Eee Pad Transformer Prime Mobile Dock

Jumat, 11 Januari 2013

Harga BBM Idealnya Naik di 2013 atau 2015

JAKARTA - Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi idealnya diberlakukan pada 2013. Pasalnya, pada 2014 Indonesia telah memasuki atmosfer politik menjelang Pemilihan Umum (Pemilu).

"Kalau mau menaikan harga BBM bersubsidi, ya harus 2013. Karena 2014 sudah tahun pemilu. Jadi kalau naikan ya pada 2013 atau 2015," kata Ekonom Standart Chartered, Fauzi Ichsan, di Hotel Mandarin, Jakarta, Jumat (11/1/2013).  

Menurut dia, dari sisi legal, pemerintah dinilai memiliki fleksibilitas untuk menaikan harga BBM. Menurutnya, pemerintah harus melakukan langkah untuk mengurangi penggunaan energi. "Kalau melihat pejabat mereka antisipasi ya, untuk mengurangi energi, mereka berharap harga BBM dinaikan," tukas dia. 

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini menjelaskan, meskipun harga BBM bersubsidi tahun ini naik, hal tersebut tetap tidak akan mampu menurunkan konsumsi masyarakat akan BBM subsidi dan kuota BBM subsidi pun tetap jebol. 

Menurut Rudi, pemerintah telah salah menghitung kuota BBM bersubsidi tahun ini sebanyak 46 juta kl. Oleh karena itu, dia meyakini kuota tersebut juga akan mengalami kelebihan permintaan (overkuota). 

Analisa
lebih baik beralih kebahan bakar alternatif lain dibandingkan terus menerus mengeluarkan APBN hanya untuk mensubsidi BBM, selain itu dampak positif jangka panjang akan kita rasakan jika mulai saat ini mulai memikirkan untuk beralih kebahan bakar alternatif.

Source :


Ngaku Surplus, Bulog Masih Butuh Impor

Jakarta – Kementerian Pertanian mengumumkan adanya peningkatan jumlah produksi beras menjadi sebanyak 39 juta ton. Dengan total konsumsi hanya 34 juta ton, maka pemerintah menyatakan adanya surplus sebesar 5 juta ton. Namun Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Sutarto Alimoeso menyatakan, pada tahun 2013 masih perlu melakukan impor beras sebesar 670 ribu ton.  
 
Saat dihubungi Neraca kemarin (3/1), Menteri Pertanian Suswono mengatakan, data surplusnya pasokan beras didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS). Sedangkan keterkaitan dengan importasi, lanjut dia, hal tersebut merupakan langkah yang diambil Bulog untuk kesiapan. 

“Serapan bulog terhadap produksi dalam negeri tidak optimal, jika dia dapat menyerap sekitar 3,2-4 juta ton maka hal itu tidak terjadi,” ujarnya. 

Menurut Suswono, tidak terserapnya produksi secara optimal membuat stok akhir tahun tidak dapat tercapai sebesar 1 ½ -2 juta ton. Hal itu terjadi akibat adanya penyaluran beras untuk masyarakat miskin (raskin) dan pengadaan operasi pasar. 

Sejauh ini, tandasnya, kementerian pertanian telah mengoptimalkan produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga seharusnya tidak lagi diperlukan impor. Hal tersebut sejalan dengan rencana pemerintah yang menargetkan 10 juta ton per tahun. “Kita optimalkan lahan pertanian yang ada, misalnya dari 5,1 juta ton per ha menjadi 5,2 juta ton per ha,” ujarnya. 

Di samping mengoptimalkan lahan pertanian, Suswono menyebut, yang menjadi tantangan bagi optimalisasi produksi pertanian yaitu perubahan iklim dan adanya konversi lahan sebesar 100.000 ha per tahun. Hal tersebut sangat ironis karena yang menjadi masalah impor selama ini adalah akibat keterbatasan lahan. Karena itu, pihaknya telah mengusulkan untuk tiga tahun ke depan tidak ada konversi lahan. Draft mengenai hal tersebut telah diajukan dan akan dibahas di lintas menteri untuk kemudian disampaikan ke Presiden. 

Sebelumnya, Sutarto mengutarakan, Bulog tidak akan mengimpor beras pada 2013 apabila stok beras mencapai 6%. “Kalau hasil pertanian meningkat dengan capaian 6% sekitar 3 juta ton lebih, kita tidak akan mengimpor beras.Namun apabila itu tidak tercapai, kita akan lakukan impor,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Kamis. 

Menurut dia, apabila tak tercapai, maka pihaknya akan mengupayakan impor beras maksimal 670 ribu ton beras. Angka tersebut adalah jumlah yang maksimal yang harus diimpor sebagai akibat apabila produksi beras tidak mencapai target. 

“Untuk mencapai beras 6% tahun ini kita berharap curah hujan bersahabat (tidak banjir) agar tidak terjadi sebagaimana tahun 2007 hampir 100 ribu hektar tergenang banjir yang menyebabkan gagal panen 400 ribu ton di Jawa,” katanya. 

Sutarto menambahkan, saat ini Bulog sudah punya tugas baru dari pemerintah berupa pengadaan beras 1 juta ton. Sementara Bulog sendiri sudah memiliki stok beras sebanyak 2 juta ton. “Karena stok Bulog cukup pengadaan dalam negeri meningkat. Kalau dalam negeri bisa ngapain impor,” tegasnya. 

Masalah beras sering terjadi kontroversi lantaran data di Badan Pusat Statistik (BPS) hanya merupakan data komulatif. Akibatnya, data neraca bulanan di Kementerian Pertanian dan Badan Urusan Logistik (Bulog) berbeda. 

“Yang terjadi di lapangan adalah 70% produksi beras terjadi pada saat masa panen raya yaitu pada bulan April-Maret sedangkan 30% berada di luar masa-masa panen,” kata pengamat pertanian dari IPB Bustanul Arifin saat dihubungi kemarin. 

Menurut Bustanul, ada kesalahan dari manajemen stok yang dilakukan Bulog. Imbasnya, pada musim kemarau saat terjadi panen justru Bulog melakukan impor, padahal stoknya masih ada. “Manajemen stok Bulog masih kurang bagus sehingga kadang stoknya tidak mencukupi sehingga perlu dilakukan impor,” jelasnya. 

Dia lantas menyarankan agar Bulog memperbaiki manajemen stoknya sehingga tidak dimanfaatkan oleh para tengkulak. Pasalnya selama ini yang memanfaatnya justru tengkulak beras. “Perbaiki manajemen dan juga tingkatkan produksi. Kalau meningkatkan produksi, tugasnya adalah tugas dari pemerintah sedangkan Bulog memperbaiki manajemennya,” tegasnya. 

Saat ini, papar Bustanul, kebutuhan beras di Indonesia mencapai 35 juta ton. Angka ini didapat dari konsumsi per kapita dikalikan dengan jumlah penduduk dan hasilnya 35 juta ton. Sehingga tiap bulannya dibutuhkan beras sekitar 3 juta ton. Tak hanya itu, menurut dia, ada juga hal yang janggal ketika pasokan beras berlimpah tetapi justru harga beras cenderung naik. “Hal inilah yang harus dicermati oleh pemerintah dan diambil tindakan,” tuturnya. 

Bustanul juga menilai upaya pemerintah dalam menstabilkan harga dengan mengimpor beras belum signifikan. “Jika terus menerus mengimpor, pasokan akan menumpuk dan harga bisa menjadi ‘liar’,” katanya. 

Menurut Bustanul, pemerintah seharusnya melakukan perencanaan yang matang, terutama menyangkut bahan pokok seperti beras. Untuk itu, dia menghimbau pemerintah agar memprioritaskan produksi dalam negeri. 

Bagi Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, Bulog memang seharusnya melakukan impor. “Pada dasarnya kita mempersilakan impor, asal hanya untuk raskin dan stok beras nasional. Nyatanya sampai sekarang terpantau baik, impor terkendali,” ujarnya, Kamis. 

Winarno mengakui, di tahun 2012 produksi beras mengalami surplus. Tetapi surplus yang terjadi adalah surplus terbatas, bukan surplus berlimpah. “Surplus kita hanya mampu memenuhi cadangan beras Bulog 1 juta ton beras, padahal seharusnya 2 juta ton, jadi memang Bulog perlu impor 1 juta ton lagi,” kata dia. Jumlah tersebut, sambungnya, sudah memperhitungkan konsumsi beras nasional yang pada tahun 2012 naik 1,4%. “Mudah saja menghitung kenaikan konsumsi beras, lihat saja kenaikan jumlah penduduk, kira-kira samalah,” ujarnya. 

Dia mengungkap, kebutuhan beras Indonesia pada 2012 sebesar 34 juta ton. Julah tersebut adalah kebutuhan nasional ditambah 2,4 juta ton untuk raskin, dan 2 juta ton untuk cadangan. “Cadangan kita memang harus 2 ton, apalagi menurut BMKG, pada Januari atau Februari ini akan terjadi banjir di mana-mana. Kalau betul itu terjadi, maka panen akan mundur dari Maret-April, menjadi April-Mei. Kita perlu persiapan untuk itu,” terang Tohir. 

Winarno menuturkan bahwa petani tidak terlalu terganggu kalau terjadi banjir di Januari atau Februari ini. “Petani memang harus menanam ulang, tetapi umur tanaman masih muda, jadi tidak begitu rugi, hanya saja terjadi mundur panen,” bebernya. 

Persiapan kedua yang harus dilakukan untuk produksi beras Indonesia 2013 adalah ketika memasuki musim kemarau nanti, kata Tohir. “Dibanding 2011 dan 2012, kekeringan yang terjadi di 2013 akan lebih hebat lagi. Ini tentu akan mengganggu produktivitas padi kita. Mungkin akan perlu impor lagi, tidak masalah,” ujar dia. 

Analisa
Impor beras adalah sesuatu yang tidak perlu dilakukan, kita bisa melakukan swasembada beras dengan cara meningkatkan produksi beras dalam negeri, seharusnya pemerintah bisa membuat program jangka panjang guna meningkatkan produksi beras dalam negeri serta membuat kebijakan-kebijakan yang menguntungkan petani.

Source :

http://www.neraca.co.id/2013/01/03/mentan-ngaku-surplus-bulog-masih-butuh-impor/

Menkeu Optimistis Ekonomi RI Terbaik ke-2

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis pertumbuhan ekonomi 2012 akan mencapai angka 6,3 persen dan membawa Indonesia sebagai pertumbuhan ekonomi terbaik ke-2. Peringkat tersebut, akan melampaui pertumbuhan ekonomi India dan Brazil.  

"Mungkin Indonesia tahun ini menjadi negara pertumbuhan ekonomi terbaik nomor 2 di dunia, karena pertama itu adalah China Sedangkan yang lain seperti India, Brasil di bawah kita," ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo, di Kantornya, Jakarta, Jumat (4/1/2013). 

Agus mengatakan hal tersebut didukung akan optimisme pemerintah atas pertumbuhan ekonomi 2012 sebesar 6,3 persen. "Karena kalau di kuartal IV ini pertumbuhan ekonomi kita itu artinya yoy tetap 6,3 persen. Jadi itu yang membuat kita pertumbuhan ekonomi 6,3 persen," katanya. 

Menurut dia, hal tersebut didukung oleh realisasi anggaran yang cukup pada 2012. Selain itu juga adanya kegiatan-kegiatan besar yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang baik. 

"Untuk government spending akan dilihat karena belanja pemerintah dan belanja negara itu 4,4 persen di bawah target anggaran, itu tepat sasaran dan nilai tambah itu harapan kita," tukas dia. 

Analisa
Pertumbuhan ekonomi indonesia yang terbaik no. 2 di dunia didukung oleh beberapa faktor, selain itu juga dengan adanya kegiatan-kegiatan besar yang mendukung terwujudnya pertumbuhan ekonomi indonesia menjadi lebih baik.
Source :

http://economy.okezone.com/read/2013/01/04/20/741508/menkeu-optimistis-ekonomi-ri-terbaik-ke-2

Jepang, Negara Paling 'Rajin' Utangi Indonesia

JAKARTA - Pemerintah mencatat total utang hingga akhir November 2012 telah menyentuh angka Rp1.990,66 triliun, naik Rp181,71 triliun atau 10,04 persen dari total utang pada 2011. Utang tersebut terdiri dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman.  

Mengutip perkembangan utang pemerintah pusat yang diterbitkan Direktorat Jendral Pengelolaan Utang (DJPU), Minggu (6/1/2013) pinjaman Indonesia mencapai Rp615,34 triliun atau 30,9 persen dari total utang pemerintah. 

Rincian dari pinjaman tersebut, yakni Rp613,71 triliun berasal dari pinjaman luar negeri. Sementara, Rp1,62 triliun berasal dari pinjaman dalam negeri. 

Pinjaman luar negeri, terdiri dari pinjaman bilateral, multilateral, komersial, dan suppliers. Adapun pinjaman bilateral mencapai Rp371,90 triliun, dan paling besar diberikan oleh Jepang sebesar Rp371,90 triliun atau 43,7 persen dari total pinjaman bilateral. 

Sementara negara lainnya yang juga memberikan pinjaman besar kepada Indonesia adalah Prancis, yakni Rp21,54 triliun atau 3,5 persen dari total pinjaman luar negeri, dan Jerman sebesar Rp20,44 triliun atau 3,3 persen dari total pinjaman luar negeri. Selain itu, terdapat pinjaman dari beberapa negara lain dengan total Rp61,20 triliun. 

Sedangkan untuk pinjaman multilateral, mencapai Rp217,28 triliun. Pinjaman paling besar tercatat diberikan oleh Bank Dunia (World Bank/WB) sebesar Rp116,46 triliun, disusul oleh ADB Rp94,36 triliun, dan IDB Rp4,31 triliun. Selain itu, terdapat pinjaman multilateral lainnya dengan total Rp2,16 triliun. 

Sementara untuk pinjaman komersial dan suppliers, masing-masing sebesar Rp24,11 triliun dan Rp42 miliar. 

Analisa
Total utang indonesia hingga akhir november 2012 mencapai Rp1.990,66 triliun atau naik 10,04 persen dari tahun sebelumnya dan dari total pinjaman bilateral yang mencapai Rp371,90 triliun, dan paling besar diberikan oleh Jepang sebesar 43,7 persen dari total pinjaman bilateral.


Source :

http://economy.okezone.com/read/2013/01/06/20/742060/jepang-negara-paling-rajin-utangi-indonesia 

Wah, Utang Indonesia Hampir Sentuh Rp2.000 T

     JAKARTA - Total utang pemerintah pusat hingga akhir November 2012 telah menyentuh angka Rp1.990,66 triliun, naik Rp181,71 triliun atau 10,04 persen dari total utang pada 2011. Adapun total utang pada 2011 sebesar Rp1.808,95 triliun.

     Menyitir perkembangan utang pemerintah pusat yang diterbitkan Direktorat Jendral Pengelolaan Utang (DJPU), Minggu (6/1/2013), dalam lima tahun belakangan utang Indonesia telah naik Rp601,25 triliun atau naik 43,27 persen. Pemerintah mencatat, total utang pada 2007 masih berada di kisaran Rp1.389,41 triliun. 

     Utang tersebut, berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp1.375,33 triliun atau 69,1 persen dari total utang pemerintah pusat. Dari angka tersebut, penerbitan SBN dengan denominasi rupiah mencapai Rp1.111,39 triliun atau 55,8 persen dari total utang, dan penerbitan SBN denominasi valas sebesar Rp263,94 triliun atau 13,3 persen dari total utang. 

     Sementara sisanya, berasal dari pinjaman sebesar Rp615,34 triliun atau 30,9 persen dari total utang pemerintah. Adapun rincian dari pinjaman tersebut, yakni Rp613,71 triliun berasal dari pinjaman luar negeri, sementara hanya Rp1,62 triliun berasal dari pinjaman dalam negeri.

     Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lewat Sekretaris Kabinet (Seskab) mengeluarkan Surat Edaran Surat Edaran (SE) Nomor: SE–592/Seskab/XI/2012 untuk membatasi pinjaman luar negeri yang membebani APBN/APBD. 

     Sementara dalam RAPBN 2013, pembiayaan anggaran direncanakan berasal dari dalam negeri Rp169,6 triliun dan pembiayaan luar negeri Rp19,4 triliun. Untuk rencana pendapatan RAPBN ditargetkan mencapai Rp1.507,7 triliun. 

Analisa
Total utang pemerintah hingga akhir November 2012 telah menyentuh angka Rp.1.990,66 triliun, utang tersebut berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara yang mencapai Rp1.375,33 triliun atau 69,1 persen, sementara sisanya berasal dari pinjaman sebesar Rp615,34 triliun atau 30,9 persen dari total utang pemerintah.


Source :